3 Calon Ketua Golkar Kota Bogor Kompak: Tolak Rusli Prihatevi

oleh -37 Dilihat

Kota Bogor,Bramasta news.com –
Tiga bakal calon Ketua DPD Partai Golkar Kota Bogor, yakni Heri Cahyono, Airlangga Pramada, dan Naufal Hadi, menggelar pertemuan dan menyatakan kesepakatan untuk maju bersama dalam Musyawarah Daerah Partai Golkar Kota Bogor.

Ketiganya juga menyatakan sikap politik yang sama, yakni menolak pencalonan kembali Rusli Prihatevi sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kota Bogor periode 2026–2031.

Kesepakatan tersebut disebut sebagai bentuk keprihatinan terhadap kondisi internal Partai Golkar Kota Bogor selama kepemimpinan Rusli. Mereka menilai partai membutuhkan perubahan, perbaikan tata kelola, serta regenerasi kepemimpinan.
Menurut ketiga bakal calon, terdapat sejumlah alasan yang mendasari sikap tersebut.

Pertama, mereka menilai pola kepemimpinan Rusli cenderung otoriter. Salah satu contoh yang disoroti adalah pemberhentian Budi Kurniawan dari jabatan Ketua PK Partai Golkar Kecamatan Bogor Selatan yang dinilai dilakukan tanpa proses organisasi yang transparan.

BACA JUGA  Dansatgas Yonif R 514 Menyambut Pejabat Tinggi Polri di Nduga

Mereka juga mempertanyakan keterbukaan pengelolaan keuangan partai serta menilai Fraksi Partai Golkar di DPRD Kota Bogor tidak diberikan ruang yang cukup untuk menjalankan kewenangannya secara mandiri karena berada dalam pengawasan yang terlalu ketat.

Kedua, kepemimpinan Rusli dinilai belum berhasil membangun kepengurusan yang aktif, solid, dan akomodatif. Banyak pengurus disebut tidak aktif dan kecewa sehingga tingkat kehadiran dalam rapat-rapat pleno sangat rendah.

“Dalam beberapa rapat pleno, pengurus yang hadir bahkan disebut tidak lebih dari 15 orang. Kondisi tersebut menyebabkan rapat sering tidak memenuhi kuorum dan keputusan-keputusan penting organisasi sulit memperoleh legitimasi yang kuat,” demikian pandangan yang disampaikan dalam pertemuan tersebut.

Ketiga, mereka menilai kepemimpinan partai lebih banyak diarahkan untuk memenuhi kepentingan pribadi daripada membangun kebesaran dan kekuatan Partai Golkar secara kelembagaan.

Keempat, sikap politik Rusli dinilai berubah-ubah dan membingungkan kader. Rusli sebelumnya disebut sempat berkeinginan maju sebagai calon Wali Kota Bogor, kemudian kembali ke DPRD, sempat dikaitkan dengan kepengurusan Golkar tingkat Jawa Barat, tetapi pada akhirnya kembali ingin mencalonkan diri sebagai Ketua DPD Golkar Kota Bogor
.
“Pola kepemimpinannya seperti poco-poco, maju-mundur dan terus berubah arah. Hal tersebut membuat kader bingung serta menghambat proses regenerasi kepemimpinan di tubuh Partai Golkar Kota Bogor,” ujar salah satu peserta pertemuan. Kepada media tgl (27/7/2026).

BACA JUGA  Bupati Bogor Rudy Susmanto Tegaskan Pembebasan Lahan Jalur Tambang Masuk APBD 2026 dan Segera Direlokasikan

Kelima, mereka menyoroti belum terealisasinya pembangunan kantor DPD Partai Golkar Kota Bogor sebagaimana yang pernah dijanjikan Rusli ketika terpilih menjadi ketua.

Keenam, ketiga bakal calon berpandangan bahwa persoalan kepemimpinan saat ini tidak terlepas dari proses Musda sebelumnya. Mereka menilai keterpilihan Rusli bukan merupakan hasil dukungan mayoritas pengurus kecamatan, melainkan lebih sebagai hasil kompromi atau “hadiah politik” dalam Musda.
Atas dasar itu, Heri Cahyono, Airlangga Pramada, dan Naufal Hadi sepakat membangun komunikasi serta kekuatan bersama untuk menghadirkan kepemimpinan baru yang lebih demokratis, terbuka, akomodatif, dan berorientasi pada kepentingan partai.

BACA JUGA  DLH KBB: Status Tempat Usaha PT. QL dan Lainnya di Cigangsa Cipeundeuy Masih di Segel, Jika di Buka Itu Pidana..!!

Meski maju sebagai calon masing-masing, ketiganya berkomitmen menjaga kebersamaan dan tidak saling menjatuhkan. Mereka juga sepakat bahwa siapa pun di antara mereka yang nantinya memperoleh dukungan terbesar harus didukung bersama untuk menghadapi Rusli Prihatevi dalam Musda.

“Ini bukan semata-mata persoalan siapa yang menjadi ketua. Ini adalah gerakan bersama untuk menyelamatkan organisasi, membuka ruang regenerasi, dan mengembalikan Partai Golkar Kota Bogor sebagai rumah besar yang demokratis bagi seluruh kader,” demikian kesepakatan ketiga bakal calon.

Mereka berharap Musda DPD Partai Golkar Kota Bogor dapat dilaksanakan secara jujur, terbuka, demokratis, serta bebas dari tekanan dan intervensi kepentingan tertentu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *