Tantangan Ikatan Alumni Lemhanas (IKAL) ke depan semakin kompleks di tengah dinamika nasional dan global. Hal ini mengingatkan kembali pada prediksi Presiden Ir. Soekarno 61 tahun lalu, tepatnya 20 Mei 1965, tentang pentingnya integrasi seluruh unsur bangsa dalam penyelenggaraan negara.
Untuk menjawab tantangan itu, Soekarno membentuk Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas). Kini, kader-kader yang telah menempuh pendidikan di Lemhanas berjumlah puluhan ribu dan dihimpun dalam wadah IKAL. Mereka tersebar di berbagai posisi strategis di pemerintahan, militer, sipil, hingga organisasi kemasyarakatan.

Tugas besar kini beralih kepada para alumni. IKAL diharapkan mampu menyelamatkan dan melestarikan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan serta tujuan bangsa Indonesia di tengah percaturan politik dunia yang terus berubah.
“IKAL harus menjadi perekat dalam mewujudkan bangsa Indonesia yang majemuk dan heterogen. Ini adalah proses integrasi, perpaduan setiap unsur kekuatan bangsa ke dalam satu jiwa kebangsaan sesuai konstitusi,” demikian disampaikan dalam pemikiran yang disampaikan *Nurmadjito*.

Pekerjaan tersebut tidak mudah. IKAL dihadapkan pada perubahan faktor internal dan eksternal yang memengaruhi ketahanan nasional. Mulai dari geografi, demografi, sumber kekayaan alam, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, hingga pertahanan dan keamanan, ditambah situasi global dan regional.
Meskipun berada di luar struktur Lemhanas, IKAL tetap harus memiliki komitmen strategis. Organisasi ini menjadi wadah bagi para alumni yang saat ini duduk di posisi-posisi kunci pemerintahan untuk terus mengamalkan nilai-nilai kebangsaan.
Setiap alumni IKAL dinilai memiliki modal penting: intelektual, pengalaman kepemimpinan, dan pemahaman mendalam tentang ketahanan nasional. Modal inilah yang harus dioptimalkan untuk kepentingan bangsa dan negara.
Di sinilah peran IKAL sebagai organisasi yang solid dan strategis diuji. IKAL dituntut mampu mendorong setiap anggotanya memiliki kesamaan visi dalam mengemban misi kebangsaan dan menjaga keutuhan NKRI.
Untuk memperkuat marwah organisasi, IKAL telah menciptakan tiga instrumen utama. Yaitu Anggaran Dasar IKAL, Kode Etik dan Pedoman Perilaku Pengurus, serta Komunike Rakernas I DPP IKAL Lemhanas. Ketiganya menjadi pedoman dalam mendukung program Asta Cita pemerintah.
Dengan landasan itu, IKAL diharapkan dapat terus menjadi garda terdepan dalam menjaga integrasi bangsa. Di tengah tantangan zaman, alumni Lemhanas diharapkan hadir sebagai pemimpin yang membawa semangat.
“*nengsih*











