Sebuah kasus mengejutkan terjadi di RS Santosa, Kota Bandung, di mana seorang pasien datang bersama Ibunya dan keluarganya ke IGD RS Santosa Center Bandung dibiarkan tanpa tindakan medis karena BPJS-nya sudah mati. Orang tua pasien, Fagil Abdullah Bajri, seorang pegawai DPRD Kota Bandung, membawa anaknya ke IGD RS Santosa pada Selasa (6/1/2026) pukul 2.57 Dini Hari , namun pihak IGD menolak melakukan tindakan medis.
“Pasien BPJS Mati, RS Santosa Tolak Tindakan Medis dan Minta Bayar 1,5 Juta” – itulah kalimat yang menggambarkan kejadian tersebut. Fagil mencoba menggunakan UHC, tetapi tidak bisa digunakan karena UHC hanya untuk pasien yang dinyatakan rawat inap. Pihak RS Santosa meminta Fagil membayar 1,5 juta jika ingin mendapatkan tindakan medis.
“Saya merasa tidak bijak dengan sikap RS Santosa. saya dibiarkan begitu saja tanpa pemeriksaan sedikit pun,” kata Fagil. Ia merasa sangat tidak puas dengan pelayanan RS Santosa dan berharap pihak rumah sakit dapat memperbaiki pelayanan mereka agar tidak ada lagi pasien yang mengalami nasib serupa.
Kasus ini menunjukkan bahwa RS Santosa masih memiliki banyak kekurangan dalam pelayanan pasien, terutama bagi Apakah RS Santosa akan mengambil tindakan untuk memperbaiki pelayanan mereka? Kita tunggu saja.
*Kritik untuk RS Santosa:*
– Mengapa pasien dibiarkan tanpa tindakan medis hanya karena BPJS-nya sudah mati?
– Apakah RS Santosa tidak memiliki prosedur untuk menangani kasus darurat?
– Mengapa pihak RS Santosa meminta uang 1,5 juta untuk tindakan medis?
– Apakah RS Santosa lebih mementingkan uang daripada nyawa pasien?
Red










