Ghea Indrawari Klarifikasi Soal Kritik Unggahannya Kesulitan Cari Makanan di PALI

oleh -136 Dilihat
Oplus_131072

PALI — Setelah menuai polemik dan menjadi perbincangan luas di media sosial, penyanyi Ghea Indrawari akhirnya memberikan penjelasan panjang terkait unggahannya yang mengeluhkan kesulitan mencari makanan seusai tampil di Festival Candi Bumi Ayu, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Jumat (21/11/2025).

Unggahan pelantun “Jiwa Yang Bersedih” itu sempat viral diberbagai media, bahkan sempat menuai kritik dari berbagai kalangan termasuk tokoh politik lokal.

Akhirnya melalui akun Instagram pribadinya, Ghea mengaku tidak menyangka bahwa keluhannya menjadi viral dan dipersepsikan seolah menjelekkan daerah. Ia pun memutuskan untuk membeberkan kronologi kejadian agar tidak terjadi kesalahpahaman berkepanjangan.

“Wow rame. Yaudah kali ini aja aku spill kronologinya. Nggak mau bahas lagi, karena kayak yang aku bilang, aku love banget sama PALI. Dan nggak ada masalah sama orang PALI,” tulis Ghea dalam unggahan Story yang diposting pada Minggu malam (23/11/2025).

Tidak Ada Makanan Berat untuk Seluruh Tim

Ghea menjelaskan bahwa persoalan bermula dari tidak tersedianya makanan berat untuk seluruh anggota timnya seusai ia tampil. Menurutnya, hal itu sudah tercantum dalam riders yang telah disepakati sebelumnya.

“Kayak yang bisa dilihat di video yang udah di-share. Nggak ada makanan berat (which is nasi, nasian apapun) untuk seluruh tim yang tercantum di riders. Pulang manggung aku minta tolong LO untuk beliin makanan apapun yang masih buka di PALI karena aku belum makan dari siang,” ungkapnya.

BACA JUGA  Penyaluran Bansos Dan PKH Maret 2023 Di Pastikan Melalui Bank Dan PT. Pos

Tidak Bisa Pesan Ojol dan Harus Segera ke Palembang

Ghea juga menyebut dirinya tidak dapat memesan layanan ojek online (ojol), sementara ia dan tim harus segera kembali ke Palembang pada pukul 02.00 dini hari.

“Kenapa minta beliin? Karena nggak bisa pesen ojol dan kita nggak bisa keluar makan karena harus ke Palembang jam 2. Tapi katanya udah tutup semua. Plis lah, ini bukan masalah uang makan, tapi apa yang harus kita beli dan gimana caranya,” jelasnya.

Mengaku Tidak Percaya Tidak Ada Penjual Makanan

Karena merasa tidak masuk akal jika semua tempat tutup, Ghea akhirnya menanyakan langsung kepada warga lokal melalui Instagram Story. Setelah mendapat informasi tempat makan yang masih buka, Ghea mengaku telah meneruskannya kepada LO yang bertugas.

“Setelah dapat infonya, aku screenshot dan kirim ke LO. Beliau tetap nggak beliin sampai beberapa jam kemudian,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa dirinya tidak bisa pergi mencari makanan sendiri karena harus menjaga kondisi sang driver.

“Kenapa nggak inisiatif pergi sendiri? Aku bukan warlok, dan aku minta driver aku tidur karena harus nyetir 4 jam ke Palembang,” jelasnya.

Kirain Bawa Makanan, Ternyata Meminta Take Down Story

Ghea mengatakan dirinya sempat merasa lega ketika LO menghubungi tim pada malam itu. Ia mengira pihak tersebut membawa makanan yang ditunggu. Namun kenyataannya, LO justru meminta dirinya menghapus unggahan Story sebelumnya.

BACA JUGA  Media Suara Mabes Gelar Silahturahmi Dan Konsolidasi Bersama Kaperwil, Kabiro Se- Jawa Barat

“Aku kirain bawa makanan, ternyata minta aku take down story aku. Pas ditanya kenapa belum nyariin, katanya lagi debat sama logistiknya kenapa nggak nyiapin makanan berat buat timku. 45 menit loh. Terus baru bilang yaudah coba dicariin. Dan jadinya pake driver aku yang harusnya istirahat,” tulis Ghea.

Polemik yang Belum Reda

Meski klarifikasi telah disampaikan, persepsi publik terlanjur terbentuk dan menjalar cepat di media sosial.

Warganet dari berbagai daerah ikut mengomentari situasi tersebut, sebagian menyoroti pelayanan di PALI, sementara lainnya mengkritik sikap Ghea sebagai figur publik.

Bagi masyarakat dan pemerintah daerah, momentum yang seharusnya menjadi ajang promosi budaya melalui Festival Candi Bumi Ayu justru tercoreng oleh polemik yang tak pernah di perkirakan.

Sentimen negatif yang muncul meskipun berawal dari persoalan teknis internal telah memengaruhi citra daerah yang sedang berupaya membangun nama dan menarik perhatian nasional.

Di tengah derasnya arus pemberitaan, banyak pihak di PALI berharap klarifikasi Ghea dapat meredakan situasi, meski efek viralnya sudah terlanjur menyebar dan meninggalkan jejak persepsi publik yang sulit dibalikkan dalam waktu singkat.

Penjelasan panjang Ghea ini muncul setelah warganet, termasuk sejumlah tokoh masyarakat PALI, menilai unggahan awalnya terkesan menyinggung dan meremehkan daerah.

BACA JUGA  Lakukan Patroli Mobile Sat Intelkam Polres Metro Bekasi Amankan Tiga Pemuda

Kritik pun bermunculan karena keluhannya dianggap memunculkan citra negatif terhadap PALI yang sedang menggelar festival budaya terbesar tahun ini.

Meski Ghea menegaskan tidak memiliki maksud buruk terhadap warga lokal, penjelasan tersebut masih menunggu respons publik, terutama dari masyarakat PALI yang sejak kemarin menyuarakan kekecewaan.

Polemik ini menjadi pengingat bahwa komunikasi publik dari figur artis, sekecil apa pun konteksnya, dapat berdampak luas dan sensitif terlebih ketika menyangkut kehormatan daerah dan perasaan masyarakat yang menjadi tuan rumah.

Semestinya, keluhan yang bersifat internal antara pihak manajemen Ghea dan Event Organizer (EO) dapat diselesaikan melalui mekanisme komunikasi profesional tanpa harus diumbar ke media sosial.

Persoalan teknis seperti keterlambatan penyediaan makan untuk tim, menurut sejumlah pihak, seharusnya dibicarakan secara tertutup agar tidak menimbulkan kesalahpahaman yang lebih luas.

Namun unggahan Ghea yang terlanjur dipublikasikan ke Instagram justru menjadi bahan konsumsi publik dan memicu beragam interpretasi.

Konten tersebut kemudian mudah diviralkan, diframing, dan digiring menjadi opini negatif yang menyeret citra Kabupaten PALI.
Padahal, masalah tersebut bukan berkaitan dengan masyarakat maupun pemerintah daerah, melainkan persoalan internal koordinasi.

Akibatnya, nama PALI ikut terdampak dalam perbincangan nasional, bahkan menjadi sasaran kritik yang semestinya tidak perlu terjadi bila penyelesaian dilakukan lewat jalur komunikasi yang lebih tepat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *