Arif Maulana Pimpin AKAR 2026-2031, Targetkan Bandung Jadi Kota Kuliner Kelas Dunia

oleh -52 Dilihat

Bandung, – Bramastanews.com

Arif Maulana, S. Com resmi dikukuhkan sebagai Ketua Asosiasi Kuliner dan Restoran (AKAR) Kota Bandung periode 2026-2031. Pelantikan berlangsung khidmat di Restoran Sindang Reret Bandung, Rabu (26/8/2026).

Acara pelantikan dihadiri Wakil Gubernur Jawa Barat dan Wali Kota Bandung. Kehadiran keduanya menjadi bukti bahwa sektor kuliner kini menjadi tulang punggung pariwisata dan ekonomi daerah.

Dalam sambutannya, Arif menegaskan AKAR memasuki babak baru. Jika periode pertama fokus pada penguatan organisasi, maka periode kedua akan fokus pada sinergi dan “naik kelas”.

“Periode pertama kita penguatan. Dulu hanya komunitas kecil-kecil, sekarang kita bernaung di AKAR,” ujar Arif.

Ia menyebut restoran anggota AKAR mulai dari UMKM hingga brand besar seperti Atmosfer, Raja Sunda, McD, hingga Starbucks. Total anggota yang tercatat di Kota Bandung mencapai ribuan, dan se-Jawa Barat sekitar 4 ribuan.

BACA JUGA  Hari ke 3 Pameran BIFHEX Padati Pengunjung Membludak Hadirnya Chef Juna

Bidik Sinergi Lintas Kota dan Pariwisata
Arif menekankan restoran tidak bisa dilepaskan dari sektor pariwisata dan aglomerasi antar kota.

Untuk itu AKAR akan membangun kolaborasi lintas sektor. Pihaknya sudah mulai berkomunikasi dengan Putri-Putri, Asosiasi Taman Rekreasi Indonesia, hingga Taman Safari Nasional.

“Gagasannya sederhana: beli makan di restoran A dapat diskon tiket ke tempat wisata, dan sebaliknya. Kita juga sedang susun peta kuliner AKAR di Bandung. Ini kerja kolaborasi market to market,” jelasnya.

Menurutnya, restoran adalah tulang punggung PAD Kota Bandung. “Pajak restoran itu tumbuh terus. Walau ada yang buka tutup, tapi yang tumbuh lebih banyak,” katanya.

Arif menegaskan garis besar Bandung memang kota kuliner. “Secara akademis wisatawan datang ke Bandung alasan nomor satunya tetap kuliner,” tegasnya.

Cita-cita Besar: Festival Kuliner Kelas Dunia

Arif memiliki dua cita-cita besar untuk 5 tahun ke depan. Yang pertama adalah menggelar Festival Kuliner berskala dunia di Kota Bandung.

BACA JUGA  Wagub Erwan Buka Musda GAPENSI Jabar Kontraktor Harus Naik Kelas, Kualitas Jadi Harga Mati

“Saya ingin bikin seperti di Pattaya, Thailand. Ada food street yang ngumpul jadi satu. Itu magnet wisata,” katanya.

Konsepnya, kuliner Jawa Barat yang original dikumpulkan. 50% legendaris, 50% kekinian, plus kaki lima binaan. “Jadi destinasi baru di tengah kota. Kita sudah kerja sama dengan Jaswita juga,” ungkapnya.

Cita-cita kedua adalah menciptakan ekosistem yang adil antara restoran berizin dengan PKL.

“Restoran anggota AKAR bebannya besar. Sewa tempat, urus izin A sampai Z, bayar UMR. Tapi harus berkompetisi dengan kaki lima yang harganya bisa 5 kali lipat lebih murah. Itu iklim tidak adil,” ujarnya.

Karena itu AKAR akan merangkul dan membina PKL. Terutama soal penataan dan keamanan pangan. “Masih banyak yang cuci pakai satu ember. Ini viral dan jadi sorotan wisatawan. Kita harus ikut membina agar iklim pariwisatanya sehat,” tegasnya.

BACA JUGA  KAI Divre IV Tanjungkarang Mantapkan Komitmen Layanan Kesehatan Lewat Klinik Mediska

Dukungan Pemerintah dan Tantangan Organisasi

Arif berharap dukungan pemerintah tidak hanya sebatas pelatihan. Ia menyoroti kebijakan efisiensi anggaran yang memangkas kegiatan meeting di luar hotel.

“Kalau anggaran meeting di luar dipotong, artinya makan di restoran hilang. Dampaknya ke hotel sekitar 30%, ke restoran sekitar 10%,” ujarnya.

Tantangan lain adalah heterogenitas anggota AKAR yang mencakup mikro, kecil, menengah, besar, hingga multinasional.

“Kalau PHRI itu ada kelasnya, melati dan bintang. Kalau di AKAR digabung jadi satu. Jadi pas bikin event bingung, ini untuk yang mana,” jelasnya.

Sebagai program rutin, AKAR menggelar “Obrolan Warung Kopi” sebulan sekali khusus 30 anggota. Program terbaru adalah kerja sama dengan BTN berupa kompetisi peningkatan omset penjualan.

Dengan kepemimpinan baru, AKAR menargetkan restoran di Bandung tidak hanya sebagai tempat makan, tetapi benar-benar menjadi destinasi wisata berkelas dunia dari sisi hospitality dan pelayanan.

*nengsih*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *