UMKM perempuan bisa naik kelas kalau mau adaptasi dengan teknologi digital dan membiasakan mencatat semua ide usaha. Itu pesan utama yang disampaikan Arni Metriyana, http://S.Pd., http://M.Ba, praktisi dunia usaha sekaligus pendamping ekonomi Disparbud dari LPK Cipta Kania.
Pernyataan itu disampaikannya saat menjadi narasumber Pelatihan Kewirausahaan Jejaring Usaha Baru DP3A Kelurahan Astana Anyar yang digelar di Grand Pasundan Hotel, Bandung, Kamis 4/6/2026. Kegiatan ini hasil kerja sama DPRD Kota Bandung, Prajsu PKS H. Asep Mulyadi, S.H dengan DP3A.

Ia menekankan pentingnya perempuan UMKM untuk disiplin mencatat. “Caranya gimana? Perempuan itu harus dibikin nulis. Kalau di kepala aja mumet, bener ya. Makanya saya kemana-mana pasti bawa kertas. Catat yang paling dekat, paling mudah, yang bisa diselesaikan dulu,” kata Arni.
Arni juga mengingatkan agar pelaku usaha realistis memilih produk. Jangan langsung mengejar omzet miliaran kalau kemampuan dan prosesnya belum sampai. “Mau bikin kue pernikahan yang aku tulis di rumah, kira-kira realistis nggak? Lihat kemampuan kita dulu,” tegasnya.
Pelatihan ini diharapkan mencetak perempuan mandiri dan berdaya saing melalui pengembangan kapasitas UMKM mikro. Peserta mengaku dapat wawasan praktis langsung dari pengalaman Arni membangun usaha dari nol.
pesan Arni Metriyana, http://S.Pd., http://M.Ba saat berbagi pengalaman di Pelatihan Kewirausahaan DP3A Astana Anyar, Grand Pasundan Hotel.
“Pemasaran digital terus berubah. Mau nggak mau harus adaptasi. Dan kalau di kepala aja mumet, catat di kertas. Mulai dari yang paling mudah dulu.” ungkapnya.
Pelatihan ini difasilitasi DPRD Kota Bandung Prajsu PKS H. Asep Mulyadi, S.H bersama DP3A untuk wujudkan perempuan mandiri & berdaya saing .
*nengsih*










