, ,

Dugaan Mobilisasi Massa Terstruktur di Kota Wisata, Nama FF Menguat, Aparat Diminta Tidak Diam

oleh -56 Dilihat
oleh

Dugaan Mobilisasi Massa Terstruktur di Kota Wisata, Nama FF Menguat, Aparat Diminta Tidak Diam

Kabupaten Bogor // Bramastanews_Aksi tekanan dalam sengketa perumahan Kota Wisata, Cluster Florence , Desa Ciangsana Kecamatan Gunung Putri Kabupaten Bogor memunculkan fakta baru.

Sejumlah orang diduga berkumpul lebih dulu di Rumah Makan Bebek Goreng H. Slamet Ahmad Yani, sebelum bergerak bersama menuju lokasi sengketa.

BACA JUGA  Gadai Tanah Berujung Sengketa di Desa Margaluyu Kiarapedes, Keluarga Ahli Waris sebut Ada Pemalsuan Tandatangan

Dari pantauan warga, belasan sepeda motor datang hampir bersamaan. Tak lama, massa bergerak serempak ke perumahan yang tengah bersengketa.

Situasi mendadak ricuh, terjadi keramaian, teriakan, kegaduhan hingga muncul dugaan perusakan.

Pergerakan terkoordinasi ini menimbulkan pertanyaan, siapa yang menggerakkan?

BACA JUGA  Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus LSM LIRA Kabupaten Bogor Berjalan Sukses

Nama FF, yang disebut sebagai owner rumah makan tersebut, disebut-sebut warga berada di balik konsolidasi massa.

Jika dugaan ini benar, maka peristiwa tersebut bukan lagi konflik biasa, melainkan indikasi mobilisasi terstruktur untuk menekan pihak tertentu.

Pola seperti ini mengarah pada intimidasi, bukan penyelesaian hukum.
Sengketa seharusnya diselesaikan di pengadilan, bukan lewat pengerahan orang banyak.

BACA JUGA  BPN Purwakarta Terbitkan Sertifikat, Picu Sengketa Lahan di Desa Margaluyu Kiarapedes

Upaya konfirmasi kepada Polsek Gunung Putri belum mendapat respons hingga berita ini diturunkan.

Secara hukum, pengerahan massa yang berujung kerusakan dapat masuk ranah pidana, mulai dari Pasal 170 KUHP tentang kekerasan bersama-sama hingga Pasal 406 KUHP tentang perusakan barang.

BACA JUGA  Ketum PWDPI Minta President Pecat Kepala BPN dan Kepala Pengadilan Karimun Diduga Hakim dan BPN Masuk Angin

Karena itu, publik mendesak kepolisian
memeriksa peran FF, menelusuri titik kumpul massa, serta memastikan tidak ada aktor penggerak di balik aksi tersebut.

Hukum tidak boleh kalah oleh tekanan jalanan.

Siapa pun yang terlibat, baik pelaku lapangan maupun pihak yang diduga mengoordinasikan, harus diproses secara adil.

Masyarakat kini menunggu ketegasan aparat penegak hukum.

(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *