Istilah Maling Berkedok Gizi di Program MBG Makin Bergema Ditengah Maraknya Persoalan
BRAMASTANEWS_Maraknya persoalan dalam pelaksanaan program makan bergizi gratis atau mbg menuai kritik tajam dari banyak kalangan.
Menu yang tak sesuai dari sisi jumlah dan jenis, hingga keracunan yang terjadi dibeberapa wilayah makin memicu gelombang kritik program MBG.
Bahkan suara-suara lantang kini mulai berdatangan meminta agar program MBG dihentikan.
Selain persoalan yang tadi dipaparkan, persoalan lainnya tak luput terjadi. Makanan yang disajikan kerap tak sesuai harapan, bahkan menu yang disajikan nampak seperti asal-asalan.
Dalam persoalan lainnya, menu makanan yang disajikan bahkan kerap dipertanyakan tingkat kehigienisannya.
Beberapa dapur SPPG di salah satu Kabupaten tepatnya di Purwakarta, bahkan terindikasi tak miliki IPAL bersertifikat SLO yang menjadi syarat keharusan higienis.
Meski dikritik secara masif, namun pada praktiknya, persoalan-persoalan seakan tak henti-hentinya terjadi.
Dari sekian maraknya kritik yang disampaikan, Ketua BEM UGM bernama Tiyo Ardianto berikan kritik yang dinilai paling berani, keras, tajam serta menohok.
Menurutnya, program MBG bukan sekedar program pemenuhan gizi, dibalik program tersebut terdapat kepentingan-kepentingan yang berkaitan dengan anggaran besar.
Tiyo juga singgung soal dapur SPPG yang dimiliki Polri yang jumlahnya mencapai 1700.
Kata gratis di program tersebut merupakan pengkhianatan luar biasa pada rakyat, karena mereka bekerja mengalokasikan anggaran juga difasilitasi oleh uang rakyat.
“Ketika uang itu kembali ke rakyat dalam bentuk makanan, kok tega-teganya menyebut ini gratis. Rakyat membayar itu dengan kerjanya setiap hari, dengan pajaknya setiap hari,” ujarnya dalam sebuah kesempatan.
(red)











