Gempar!! Proyek RKB SMPN 7 Talang Ubi PALI, Balok Retak Berpotensi Membahayakan Siswa dan Guru

oleh -625 Dilihat

PALI – Bramastanews.com, Proyek pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) di SMP Negeri 7 Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), pagu senilai Rp 600 juta yang dikerjakan CV. Ratu Mas dari APBD Tahun Anggaran 2025 menggemparkan publik.

Investigasi tim media pada Kamis (4/9/2025) mendapati balok selasar (ring balok) mengalami keretakan parah hingga harus ditopang kayu penyangga. Padahal, dalam kontrak, pekerjaan cor balok selasar seharusnya memenuhi standar mutu beton fc: 19,3 Mpa (K225). Kondisi di lapangan justru memperlihatkan kualitas beton yang rapuh dan mudah sompel itu akibat tidak sesuai spesifikasi teknis.

BACA JUGA  Kapolresta Banjarmasin Berikan Fasilitas 6 Unit Truk Dinas Polri Kawal Suporter Bonex Dari Kedatangan Sampai Kepulangan

Parahnya lagi, space mengangah antara atap dengan balok dinding pada sisi belakang bangunan terlihat jelas. Kondisi ini diduga akibat kegagalan pada penarikan benang (string line) saat proses pembangunan, sehingga konstruksi tidak presisi. Akibatnya, muncul rongga yang terlalu lebar antara balok dinding dan atap bangunan.

Temuan di lapangan menunjukkan adanya indikasi pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi kontrak dan berisiko membahayakan guru dan siswa dalam proses belajar mengajar.

Pemerhati Pembangunan Kabupaten PALI, Aldi Taher, menyebut kondisi ini sangat berbahaya dan harus segera ditindak.

BACA JUGA  Pj Bupati Sumedang Silaturahmi dengan Keraton Sumedang Larang

“Kalau balok sudah retak dan harus ditopang kayu, ditambah space atap dengan balok dinding yang mengangah karena gagal presisi, ini jelas sangat berisiko. Bangunan seperti ini berpotensi membahayakan keselamatan siswa dan guru,” tegas Aldi.

Ia menambahkan, jika terbukti tidak sesuai spesifikasi kontrak, proyek tersebut harus dibongkar dan dikerjakan ulang.

“Lebih baik dibongkar daripada dipaksakan berdiri tapi justru jadi ancaman. Keselamatan guru dan anak-anak didik jauh lebih penting daripada sekadar mengejar target fisik proyek. Jangan sampai uang rakyat hampir Rp 600 juta terbuang sia-sia,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *