Tahun ke-5 Bendera Raksasa di Cikapayang Bogalakon Titip Pesan “Stop Narasi” Bandung Butuh Kerja Nyata Bukan Banyak Bicara

oleh -80 Dilihat

Bandung, – Bramastanews. Com.

Langit Cikapayang, Jalan Dago kembali memerah. Untuk tahun kelima berturut-turut, komunitas Bogalakon menggelar tradisi pembentangan bendera raksasa dalam rangka peringatan Kemerdekaan RI.

Turut Hadir pada acara pembukaan pembenrangan Bendera Merah Putih Raksasa di Taman Cikapayang Jl. Dago Wakil Wali Kota H. Erwin dan ketua DPRD kota Bandung H. Asep Mulyana serta jajaran Elemen Ormas se kota Bandung 17/8/2027.

Bagi Bogalakon, kegiatan ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah pesan persaudaraan untuk Kota Bandung.

“Ini tradisi. 5 tahun berturut-turut kita lakukan. Tujuannya satu: membangun kesadaran tentang pentingnya arti persaudaraan di Kota Bandung,” tegas Aditya Barli dari Bogalakon.

BACA JUGA  Diskusi Politik: Ketua Bawaslu PALI Bahas Tantangan dan Peran Partai Politik Dalam Pilkada

Di tengah kegiatan, Aditya menegaskan identitas Bandung sebagai kota toleran.
“Kita bilang bahwa Kota Bandung itu kota yang toleran. Dan itu harus kita jaga,” katanya.

Ia melihat semangat itu nyata di lapangan. Anak muda, seniman, hingga pegiat sosial dari berbagai komunitas turun langsung terlibat.

“Ke depan ini akan kita estafetkan. Tahun depan kelompok mana lagi. Biar setiap kelompok bisa menunjukkan potensinya. Dari situ kita bangun inspirasi tentang kehidupan yang kita mau,” ujarnya.

Kehadiran Wakil Wali Kota Bandung, H. Erwin,  dan Ketua DPRD Kota Bandung di acara ini dinilai Aditya sebagai bentuk awal keterlibatan pemerintah.

BACA JUGA  HDCU Hadiri HUT Demokrat ke-23 di PALI, Dukungan Penuh Bagi Devi - Ferdinand

“Ini pembuktian bahwa pemerintah mulai hadir di kegiatan-kegiatan komunitas. Yang kami lakukan ini adalah kegiatan kesadaran,” ucapnya.

Namun ia menitipkan PR besar untuk Pemkot. Pemerintah diminta lebih aktif menggali dan mendorong potensi masyarakat.

“Harapan saya, pemerintah harus lebih mengaktifkan lagi. Cari dan dorong potensi-potensi di masyarakat. Banyak sebetulnya,” pintanya.

Khusus sektor seni budaya, Aditya melempar kritik membangun. Baginya budaya bukan hanya soal pentas seni.

“Kalau bicara seni budaya, jangan cuma soal kesenian. Budaya itu _way of life_. Dinas Kebudayaan harus bikin program yang membangun kesadaran ‘silih asah, silih asih, silih asuh’,” tegasnya.

Ia juga menyorot dunia pendidikan. “Jangan cuma pendidikan. Harus ada ‘seni pendidikan’. Dan tingkatkan juga kualifikasi guru-guru. Biar bisa mewujudkan Panca Waluya yang diharapkan KDM,” lanjutnya.

BACA JUGA  IKAL Lemhanas: Dari Warisan Soekarno Hingga Peran Strategis Alumni di Pemerintahan

Soal kendala, Aditya menanggapinya santai. “Banyak. Tapi buat kami, kendala itu latihan. Latihan biar kita makin kreatif,” katanya.

Penutupnya menjadi pesan paling kuat.
“Bandung sudah terlalu banyak narasi. Sekarang ayo kita melangkah. Berkarya nyata. Jadikan diri kita sebagai jalan alternatif untuk beribadah dan mewujudkan apa yang kita harapkan bersama,” pungkasnya.

Pembentangan bendera raksasa di Cikapayang ini membuktikan semangat kemerdekaan di Bandung hidup di jalanan, di komunitas, dan di tangan anak-anak mudanya.

“nengsih*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *