PALI — Banjir akibat luapan Sungai Lematang masih melanda wilayah Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Sedikitnya 10 desa dan 3.450 KK terdampak, dengan ketinggian air di sejumlah titik mencapai 80 hingga 90 sentimeter, serta menyebabkan satu unit rumah warga roboh.
Berdasarkan laporan resmi Pusdalops–PB BPBD Kabupaten PALI (8/9/26), banjir terparah tercatat di Desa Curup dan Desa Tanah Abang Selatan. Di Desa Curup, ketinggian air berada pada kisaran 80–90 cm, merendam permukiman warga dan berdampak pada 547 kepala keluarga (KK). Meski air mulai berangsur surut, genangan masih terdapat di area bawah rumah warga.
Sementara itu, Desa Tanah Abang Selatan mencatat ketinggian air sekitar 85 cm dan hingga Minggu (8/2/2026) masih tergenang. Desa ini menjadi wilayah dengan jumlah rumah terdampak terbanyak, yakni sekitar 700 KK.
Desa lain di Kecamatan Tanah Abang yang terdampak banjir meliputi Bumi Ayu, Sukaraja, Tanah Abang Utara, Muara Sungai, Tanjung Dalam, Pandan, Modong, dan Sedupi.
Di Desa Pandan, banjir berdampak pada sekitar 932 KK, meski kondisi air dilaporkan mulai berangsur surut. Sedangkan di Desa Tanah Abang Utara, genangan air masih masuk ke dalam 7 unit rumah dengan ketinggian air di dalam rumah mencapai 5–30 cm.
Di tengah kondisi banjir, kejadian rumah roboh terjadi di Dusun II, Desa Tanah Abang Selatan. Sebuah rumah milik Siti Zubaidah (75) roboh pada Minggu siang akibat kondisi bangunan yang sudah rapuh dan terdampak banjir, diperkirakan kerugian material mencapai puluhan juta rupiah.
Tim Reaksi Cepat BPBD bersama Babinsa dan perangkat desa telah melakukan pengecekan lokasi, pendataan, serta evakuasi terhadap pemilik rumah. Tidak dilaporkan adanya korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Kepala BPBD Kabupaten PALI Ir. A. Hidayat, ST., MM., menyatakan, secara umum kondisi banjir di Kecamatan Tanah Abang menunjukkan tren penurunan. Namun pihaknya tetap melakukan pemantauan, terutama di desa-desa yang masih tergenang dan berada di bantaran Sungai Lematang.
“Kami juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi kenaikan debit air, terutama jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi,” tegasnya.
Ia mengatakan hingga saat ini, kebutuhan mendesak yang masih diperlukan warga terdampak antara lain air bersih di Desa Curup serta perahu atau alat evakuasi untuk mendukung mobilitas warga di wilayah yang masih tergenang.











