Pegiat Lingkungan Hidup Bongkar Persoalan di DLH Purwakarta, Sebut Banyak Temuan Janggal
PURWAKARTA // Bramastanews.com_Diduga geram dengan berbagai persoalan yang diketahuinya selama ini, seorang warga Desa Margasari yang juga aktif sebagai pemerhati dan pegiat lingkungan hidup mengaku merasa miris dan prihatin dengan pengelolaan TPA (Tempat Pengelolaan Akhir) di Cikolotok.
Menurutnya, banyak isu yang berkesesuaian dengan fakta dilapangan seperti diantaranya TPA Cikolotok yang patut diduga tanpa dokumen AMDAL (Analisis Dampak Lingkungan) atau UKL/UPL, sehingga kondisi TPS saat ini sangat memprihatinkan.
“Ditemukannya praktik pembuangan limbah pabrik ke TPA, terindikasi dari PT Quty, padahal jelas tidak diperbolehkan. Kami melihat ada unsur ketidakpedulian bahkan terindikasi kesengajaan yang merusak lingkungan daerah kami, karena dulu pernah terjadi pada tahun 2023, kalau nggak salah PT Asa Paper, saat itu ramai di media sebab buang limbah pabrik ke TPA Cikolotok, sampai akhirnya dihentikan,” ujarnya.
“Sekarang diulangi lagi, makanya saya menyebut adanya kesengajaan yang diduga berorientasi pada keuntungan pribadi atau golongan. Selain itu saya juga seorang penerima paket sembako untuk kompensasi TPA, kaget setelah mengetahui anggaran tahun 2025 untuk paket tersebut sebesar Rp.169 jutaan untuk 850 paket, yang mana seharusnya per paketnya mendapatkan sembako senilai Rp.190 riubuan, tapi fakta dimasyarakat hanya mendapatkan peket senilai Rp.100 ribuan,” tambahnya kemudian.
Selanjutnya ia juga singgung soal temuan LHP BPK mengenai anggaran BBM yang kejanggalannya ditemukan di DLH Purwakarta.
Dalam penjelasan lanjutannya, pria asal Desa Margasari tersebut juga sampaikan adanya dugaan kuat praktik penjualan BBM dan sparepart kendaraan pengangkut sampah yang ditemukan di masyarakat.
“Belum lagi masalah pengarugan TPA yang setiap tahun terindikasi bermasalah, pokoknya pengelolaan di DLH ini carut marut lah, kami sudah muak, bagaimana dampak terhadap desa kami, sedangkan pengelolaannya semau-maunya saja, itu kan uang rakyat,” tegasnya lagi.
Diakhir penjelasannya kepada awak media, pegiat lingkungan hidup itu juga sampaikan bila pihaknya akan melaporkan praktik-praktik nakal yang ditemukannya tersebut ke pihak Kepolisian.
Terpisah, saat ditemui dikantornya, Kepala Bidang Persampahan DLH Purwakarta berikan tanggapannya terkait pernyataan yang disampaikan pegiat lingkungan asal Desa Margasari tersebut.
Dimana menurutnya, persoalan terkait adanya limbah Majun yang diangkut truk pengangkut sampah dan dibuang ke TPA Cikolotok akan dipertanyakan ke pihak Karangtaruna.
Sebab menurutnya pihak DLH bekerjasama dengan Karangtaruna soal sampah dari PT Quty.
Sayangnya penjelasan yang disampaikan Kabid Persampahan DLH tersebut dinilai tidak konsisten, sebab saat dikonfirmasi sebalumnya pihaknya membenarkan adanya kerjasama dengan PT Quty, buka Karangtaruna.

Lebih lanjut terkait adanya pernyataan yang sebut adanya dugaan praktik nakal dari truk pengangkut sampah yang jual sparepart jenis ban, Anggoro membantahnya.
Ia kemudian mendatangkan sejumlah sopir truk pengangkut sampah ke kantornya untuk sampaikan pernyataan dihadapan awak media bila praktik yang disebutkan salah satu pegiat lingkungan tersebut tidak ada.
Sementara, Anggoro juga mendatangkan pihak penyedia pengadaan barang kompensasi TPA Cikolotok yang sebelumnya disebut janggal seorang warga Desa Margasari.
Dalam kesempatan itu, penyedia barang kompensasi TPA Cikolotok sampaikan tidak ada unsur KKN dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, semua dilakukan sesuai ketentuan baik dari sisi jumlah maupun kualitasnya, paket sembako yang dibagikan kepada 850 kepala keluarga bahkan dikatakannya berlebih.
(red)











