PALI – Kegiatan NGOPI (Ngobrol Perkara Aspirasi) yang digelar Koalisi Masyarakat Lematang di kawasan bersejarah Candi Bumi Ayu, Kecamatan Tanah Abang, Selasa (16/6/2026), menjadi ruang dialog terbuka antara mahasiswa, aktivis, pemuda dan unsur pimpinan DPRD Kabupaten PALI.
Ketua DPRD PALI H. Ubaidillah menegaskan bahwa keberadaan pemuda, mahasiswa dan aktivis merupakan bagian penting dalam proses pembangunan daerah.
Menurutnya, kemajuan daerah tidak dapat diwujudkan hanya oleh pemerintah dan DPRD semata, melainkan membutuhkan partisipasi aktif masyarakat sebagai pengawas sekaligus pemberi masukan terhadap kebijakan publik.
“Pemuda adalah aset pembangunan, adik adik memiliki idealisme, semangat dan kepedulian terhadap daerah. Karena itu kami memandang mahasiswa dan aktivis sebagai mitra strategis dalam membangun Kabupaten PALI,” ujar Ubaidillah.
Ia menegaskan DPRD bersama pemerintah daerah selalu membuka ruang komunikasi terhadap berbagai kritik dan masukan yang disampaikan masyarakat.
Bagi Ketua DPD PAN PALI itu, kritik yang konstruktif merupakan bagian dari demokrasi yang sehat sekaligus menjadi bahan evaluasi dalam menjalankan roda pemerintahan.
“Mari kita jadikan ruang ini sebagai wadah menyuarakan aspirasi. Mudah-mudahan diskusi hari ini menghasilkan gagasan-gagasan positif yang dapat menjadi kontribusi bagi pembangunan daerah,” katanya.
Ubaidillah juga mengingatkan bahwa fungsi DPRD sebagai wakil rakyat tidak akan berjalan maksimal tanpa dukungan dan keterlibatan elemen masyarakat.
“Tanpa masyarakat, mahasiswa, aktivis dan pemuda, kami tidak bisa bekerja secara maksimal. Sebab tugas DPRD pada dasarnya adalah memperjuangkan apa yang menjadi kebutuhan dan aspirasi rakyat,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD PALI Firdaus Hasbullah menilai tradisi kritik dari kalangan mahasiswa dan aktivis harus terus dijaga sebagai bagian dari kontrol sosial terhadap jalannya pemerintahan. Namun, ia mengingatkan bahwa kritik juga perlu diimbangi dengan sikap objektif.
Firdaus mengaku suasana diskusi dan dialog mengingatkannya pada masa-masa ketika dirinya masih aktif sebagai aktivis mahasiswa yang kerap terlibat dalam berbagai forum kajian dan gerakan sosial.
“Kritik itu penting dalam demokrasi. Mahasiswa dan aktivis memiliki peran besar sebagai kontrol sosial. Tetapi pada saat yang sama, pemerintah daerah juga harus diberikan kesempatan untuk bekerja dan menjalankan program-programnya. Yang terpenting adalah bagaimana kita bersama-sama mengawal agar hasilnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujar Firdaus.











