JOSSHUA ABRAHAM SUTANTO: MENEMUKAN “HACK” BAGAIMANA UANG BEKERJA UNTUKMU

oleh -335 Dilihat

Sulit untuk tidak terhanyut dalam energi positif Josshua Abraham Sutanto. Pembawaannya hangat, celotehnya ringan, dan humornya selalu datang di saat yang tepat. Ia tipe orang yang bisa membuat ruangan tegang jadi cair hanya dengan satu kalimat.

Tapi di balik keceriaan itu, tersimpan cerita yang tak kalah dalam dan berliku. Tentang perjalanan hidup yang penuh kegagalan, pencarian spiritual, dan pergeseran makna soal uang; dari yang harus dikejar, menjadi sesuatu yang bisa bekerja untuk kita.

Dari IT ke Properti: Uang Besar yang Tak Terlihat

Dengan latar belakang IT dan akuntansi, Josshua memulai kariernya di dunia analisis keuangan. Tapi pada 2010, ia memutuskan resign dan terjun ke dunia bisnis teknologi serta properti.

Kedua bidang ini berkembang pesat bersamaan, bahkan dalam satu waktu SPT pajaknya bisa menyentuh miliaran rupiah. Tapi ada satu masalah: uang datang dalam jumlah besar, namun hanya sesekali. Tidak cukup untuk menciptakan aliran kas yang sehat.

BACA JUGA  Sambut Perayaan Kemerdekaan NKRI, Maxy Academy Adakan Promo Agustusan.

Ketika permohonan kreditnya ditolak karena tidak ada cash flow harian, Josshua mulai berpikir ulang. Ia belajar bahwa “uang kecil yang masuk setiap hari lebih sehat daripada uang besar yang datang sesekali.”

Sejak itu, ia mulai mengejar bukan sekadar passive income, tapi passive cash profit yang konsisten dan terukur.

Uang, Doa, dan Definisi Ulang Tentang ‘Cukup’

Dalam prosesnya, Josshua juga belajar mendefinisikan ulang doanya. Dari “minta income besar,” menjadi “minta passive income,” lalu berkembang lagi jadi “passive profit,” hingga akhirnya: “My own passive cash profit.”

Proses ini membuatnya sadar bahwa seringkali Tuhan mengabulkan doa kita, tapi tidak dalam bentuk yang kita kira. Ternyata income besar belum tentu berarti bebas waktu. Passive income belum tentu berarti passive profit. Dan bahkan passive profit pun belum tentu menjadi hak kita sepenuhnya jika sistemnya tidak rapi.

BACA JUGA  KA Argo Sindoro dan KA Argo Muria Resmi Operasikan Rangkaian Kereta Eksekutif Stainless Steel New Generation, Tingkat Okupansi Tembus Lebih dari 96 Persen di Hari Pertama

Belajar dari Gagal, Bertumbuh Lewat Sistem

Dalam mencari definisi ini, Josshua tidak lepas dari kegagalan yang ia temui berkali-kali. Beberapa kali ia mengalami fraud, baik dari manajer kos maupun operator harian.

Dari situ ia belajar pentingnya sistem, sehingga lahirlah prinsip cashless serta otomatisasi yang kini ia ajarkan dalam berbagai pelatihan.

Baginya, kegagalan adalah guru yang paling jujur. Justru dari sana, sistem yang tahan banting bisa lahir. “Saya lebih senang cerita gagal karena di situlah pelajaran terbaiknya,” ujarnya.

Ia menyusun framework 5D: Dream, Delete, Digitize, Delegate, Distinctive. Prinsip ini menjadi pondasi automation yang ia sebut sebagai jalan menuju ‘uang bekerja untuk kita’.

BACA JUGA  Peringati HUT ke-111 Stasiun Semarang Poncol, KAI Daop 4 Berikan Momen Spesial kepada Pelanggan KA

Growth Is The Point

Kalimat yang terus ia ulang adalah: “Growth adalah kata penting buat saya,” ungkapnya. “Tiap masalah, saya nggak pernah tanya ‘kenapa ini terjadi pada saya’, tapi ‘dari sini, Tuhan mau saya belajar apa?’ saya fokusnya bagaimana saya bisa selesaikan masalah dan bertumbuh dari situ,” lanjutnya.

Apapun yang terjadi—gagal, kehilangan, ditipu, ditolak bank—selama bisa terus tumbuh (growth), itulah yang menjadi tolakan Josshua dalam mendefinisikan kesuksesannya.

Dan karena itulah, Josshua kini hadir sebagai praktisi sekaligus pengajar. Bukan hanya karena ia tahu ilmunya, tapi karena ia ingin orang-orang yang belajar, tidak perlu mengulangi kesalahan yang sama.

Penulis: Suhaeb Rizal M

Gambar Gravatar
Direktur Di PT. Internusa Media Group

No More Posts Available.

No more pages to load.